
Heribertus Kamang
Persoalan pendidikan anak di Indonesia kini semakin kompleks. Hampir setiap hari, media massa memberitakan berbagai kasus yang melibatkan anak dan remaja mulai dari tawuran pelajar yang merenggut nyawa, kenakalan remaja yang meresahkan masyarakat, hingga penyalahgunaan narkoba di kalangan anak sekolah. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, kita mudah menemukan anak-anak yang mangkal di jalanan, bolos sekolah, atau sekadar terlambat masuk kelas hampir setiap hari. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar: sebenarnya siapa yang bertanggung jawab atas pendidikan anak? Apakah guru dan sekolah? Orang tua? Atau masyarakat secara keseluruhan?
Selama ini, ada kecenderungan untuk menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Banyak orang tua berpikir bahwa dengan membayar uang sekolah dan menyerahkan anak ke lembaga pendidikan, tugas mereka sudah selesai. Guru dianggap harus mampu mengubah perilaku anak, membentuk karakter mereka, dan memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik. Ketika anak bermasalah, yang pertama kali disalahkan adalah sekolah dan guru. Di sisi lain, guru-guru di sekolah sudah bekerja keras. Mereka tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga berusaha menanamkan nilai-nilai moral, memberikan bimbingan, bahkan sanksi bagi yang melanggar aturan. Namun, waktu guru bersama siswa sangat terbatas hanya beberapa jam dalam sehari. Selebihnya, anak berada di rumah, di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Inilah yang sering terlupakan: pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama. Rumah adalah sekolah pertama dan utama. Di rumahlah anak pertama kali belajar tentang disiplin, sopan santun, tanggung jawab, dan nilai-nilai hidup lainnya. Keluarga adalah fondasi yang menentukan apakah bangunan pendidikan di sekolah akan kokoh atau rapuh. Sayangnya, tidak semua keluarga menjalankan peran ini dengan baik. Ada orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga tidak punya waktu untuk anaknya. Ada yang tidak tahu cara mendidik karena mereka sendiri tidak pernah mendapat contoh yang baik. Ada pula yang merasa bahwa mendidik adalah urusan sekolah, bukan urusan mereka. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara apa yang diajarkan di sekolah dengan apa yang dialami anak di rumah. Guru mengajarkan disiplin, tapi di rumah anak bebas tidur larut dan bangun siang. Guru menanamkan kejujuran, tapi di rumah anak melihat orang tuanya berbohong. Guru mendorong anak untuk rajin belajar, tapi di rumah tidak ada yang peduli apakah anak mengerjakan tugas rumah atau tidak. Dalam kondisi seperti ini, usaha sekolah menjadi kurang efektif. Seperti merawat tanaman yang hanya disiram di pagi hari, tapi sepanjang hari dibiarkan kering dan tidak terurus. Hasilnya bisa ditebak: anak tidak berkembang optimal, bahkan bisa terjerumus ke perilaku negatif. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang tentang pendidikan anak. Mendidik anak bukan monopoli sekolah, bukan pula tugas yang bisa diserahkan bulat-bulat kepada guru. Ini adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan kerja sama erat antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Hanya dengan sinergi yang baik, kita bisa menghasilkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat dan berakhlak mulia.
Mendidik Anak: Tanggung Jawab Siapa?
Belakangan ini kita sering mendengar keluhan tentang perilaku anak-anak yang mengkhawatirkan. Tawuran antar pelajar, anak-anak yang sering mangkal di jalanan, atau yang sederhana saja bangun kesiangan dan terlambat ke sekolah hampir setiap hari. Guru-guru di sekolah sudah berusaha keras, memberi nasihat, bahkan memberikan sanksi. Tapi kenapa perubahannya terasa lambat sekali? Jawabannya sederhana: mendidik anak bukan tugas yang bisa diserahkan sepenuhnya ke sekolah.
Bayangkan anak seperti tanaman. Guru di sekolah mungkin bisa menyiram dan memberi pupuk selama beberapa jam. Tapi selebihnya? Anak kembali ke rumah, ke lingkungan keluarganya. Kalau di rumah tidak ada yang peduli apakah dia sudah makan, sudah tidur cukup, atau kemana saja dia pergi setelah sekolah maka siram dan pupuk dari guru tadi jadi sia-sia. Orang tua adalah fondasi pertama dalam pembentukan karakter anak. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat, semuanya dimulai dari rumah. Anak yang terbiasa melihat orang tuanya disiplin akan lebih mudah menerapkan kedisiplinan di sekolah. Sebaliknya, anak yang di rumah tidak pernah diajari konsekuensi dari perbuatannya akan kesulitan memahami aturan di sekolah.
Kerja sama itu penting?
Masalahnya, banyak orang tua yang merasa sudah cukup dengan menyekolahkan anaknya. “Kan sudah bayar SPP, sudah ada guru, harusnya anak saya jadi pintar dan baik.” Pola pikir seperti ini yang berbahaya. Pendidikan bukan transaksi jual-beli. Ini adalah proses panjang yang butuh konsistensi dari berbagai pihak. Ketika sekolah, guru, dan orang tua bekerja sama, perubahan akan terlihat. Guru bisa memberi tahu orang tua kalau anaknya mulai sering terlambat atau nilainya turun. Orang tua bisa mencari tahu penyebabnya, apakah anaknya begadang main game, atau ada masalah lain. Dengan begitu, solusinya bisa tepat sasaran. Sebaliknya, kalau guru sudah capek-capek mendidik di sekolah, tapi di rumah anak bebas melakukan apa saja tanpa pengawasan, ya percuma saja. Seperti membangun tembok dengan satu tangan sambil tangan satunya merobohkannya.
Realita yang sering terjadi
Mari kita jujur. Ada orang tua yang sibuk bekerja dari pagi sampai malam, pulang sudah capek, dan merasa tidak punya waktu untuk mendampingi anak. Ada juga yang merasa sudah memberi makan dan uang jajan, jadi tugasnya sudah selesai. Padahal, anak tidak hanya butuh materi. Mereka butuh waktu, perhatian, dan teladan. Di sisi lain, ada juga guru yang frustasi karena merasa usahanya tidak didukung dari rumah. Mereka mengajarkan sopan santun di kelas, tapi anak melihat orang tuanya sendiri berkata kasar di rumah. Mereka mengajarkan tepat waktu, tapi orang tua malah sering telat menjemput anak tanpa alasan jelas. Bagaimana anak bisa konsisten?
Mulai dari hal kecil
Kerja sama ini sebenarnya tidak harus muluk-muluk. Hal sederhana seperti orang tua rutin bertanya, “Hari ini di sekolah bagaimana?” sudah menunjukkan perhatian. Memastikan anak tidur cukup agar tidak terlambat ke sekolah. Menanyakan PR atau tugas sekolah. Sesekali komunikasi dengan guru untuk tahu perkembangan anak. Ini semua hal kecil, tapi dampaknya besar. Anak merasa diperhatikan, merasa ada yang peduli dengan kehidupannya. Dari perasaan itu, karakter positif akan terbentuk. Dengan hal-hal seperti itu, p para guru dengan mudah mendidik siswanya karena ada dukungan orang tua.
Tidak ada orang tua yang sempurna. Tidak ada guru yang sempurna. Tapi yang penting adalah ada usaha dari kedua belah pihak untuk saling melengkapi. Sekolah mengajarkan ilmu dan keterampilan, rumah menanamkan nilai dan karakter. Keduanya harus sejalan. Anak-anak zaman sekarang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya. Media sosial, tekanan pergaulan, akses informasi yang tidak terbatas semua ini bisa jadi pisau bermata dua. Tanpa bimbingan yang kuat dari rumah dan sekolah, anak bisa tersesat.
Mendidik anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya guru, bukan hanya orang tua, tapi keduanya harus bahu-membahu. Sekolah memberikan ilmu, rumah memberikan karakter. Guru membentuk pikiran, orang tua membentuk hati. Anak yang tumbuh dengan dukungan dari rumah dan sekolah akan jauh lebih siap menghadapi dunia. Mereka punya fondasi yang kuat, pegangan yang jelas, dan kepercayaan diri yang sehat. Jadi, daripada bertanya “Ini salah siapa?”, lebih baik kita bertanya “Apa yang bisa kita lakukan bersama?” Karena pada akhirnya, masa depan anak-anak adalah masa depan kita semua. Dan masa depan itu, dimulai dari sekarang, dari kerja sama kita hari ini.
Penulis adalah Guru aktif SMAS K St Arnoldus Mukun




