
Penulis: Margareta Giraldin Pinggin
Di sela kerut wajah yang kian mendalam,
ada dua jiwa yang masih betah dalam penantian.
Meski raga mulai rapuh dimakan zaman,
keyakinan mereka tak pernah luntur oleh angan.
“Anakku pasti akan kembali,” bisik mereka pada malam.
Mereka adalah sepasang sabar yang tak menuntut balas,
setia menunggu di ambang pintu yang kian lelap.
Tahun berganti, musim bertukar rupa,
namun janji mereka tetap kokoh, tak berpaling, tak buta.
Tanpa mereka, kita hanyalah debu yang tertiup angin,
buta akan warna dunia, asing pada makna kehidupan.
Tanpa mereka, napas ini hanyalah hembusan kosong,
dan cinta hanyalah kata tanpa makna yang agung.
Sebab lewat mereka, kita belajar menjadi manusia,
mengenal samudera ilmu dan luasnya cakrawala.
Karena merekalah raga ini berdiri tegak,
memahami bahwa cinta adalah pengabdian yang tak berjarak.
Tak ada emas permata yang sanggup membayar peluh mereka,
dua pahlawan yang menuliskan sejarah dalam nadi kita.
Tanpa mereka, kita hanyalah lembaran kertas kosong,
putih, sepi, tanpa coretan takdir yang berarti.
Sebab, tidak ada cinta yang lebih luas dari samudera doa mereka,
dan tak ada kesabaran yang lebih tabah dari penantian mereka
dua jiwa yang rela menua dalam rindu,
hanya demi melihat kita bahagia di hari baru.
Penulis: Margareta Giraldin Pinggin (Siswi kelas X)
editor: Tim Jurnalistik




