
Kristin Hariman
Siswi SMAS K St Arnoldus Mukun
Minggu, 21 Juli 2024—kejadian yang tak akan pernah aku lupakan. Hari di mana semua perasaan yang belum pernah aku rasakan muncul seketika. Hari yang benar-benar menyakitkan bagiku. Dalam ruangan sunyi itu, aku melihat orang yang paling aku sayang tidur lemah di atas ranjang berukuran 200 sentimeter. Saat itu aku memeluk dirimu erat, seakan memohon agar tetap kuat dan bertahan. Namun sayangnya, semesta berpihak lain. Tepat pada pukul 13:01, Mama pergi untuk selamanya.
Ma… pelukan itu adalah pelukan hangat yang berbeda dari pelukan-pelukan biasanya. Hangat yang masih membekas di dada ini sampai sekarang. Di Valentine ini, aku ucapkan khusus untukmu, Mama. Semoga Mama di sana baik-baik saja, dan jangan lupa aku di sini yang selalu setia berdoa untukmu. Mama, jangan sedih di sana, ya. Sebab semakin dewasa, aku semakin sadar dan kuat, kok.
Bungsumu sudah tumbuh besar dan bisa berlayar sendirian—walau kadang, saat sendiri, aku selalu menangis.
Tidak apa-apa kan, Bu?
Di balik kaca jendela itu, ada seorang anak perempuan yang sedang menahan air mata. Tapi tak perlu khawatir, dia hanya terluka dan berpura-pura tertawa. Namun bolehkah, sekali saja, dia menangis? Sebelum kembali membohongi diri.
Seperti malam yang sepi, seolah menggambarkan dirinya dalam kesunyian itu. Hingga akhirnya, dia terluka—luka yang tak kunjung sembuh. Seorang puitis menuliskan kisah hidupnya dalam sebuah lembaran kertas, mencari kenangan yang tak akan pernah kembali. Mencari, mungkin, agar bisa ditemukan.
Namun sayangnya, kenangan itu seakan terbawa oleh angin di udara—angin yang tak akan pernah dihirup lagi oleh manusia. Aku rindu pada diriku yang dulu. Bisakah semuanya terulang kembali? Aku ingin menikmati hidupku dengan seseorang yang saat ini tidak lagi bisa kutatap.
Seandainya waktu bisa terulang kembali, aku ingin memeluk dirimu se-erat-eratnya—walau hanya sebentar. Pada buana ini, sungguh penuh dengan lara. Seandainya ada dimensi waktu, aku ingin hidup bersamamu walau di sana hanya ada kita berdua. Pasti rasanya sangat bahagia. Aku tidak akan pernah memikirkan betapa beratnya hidup ini.
Sakit yang tak ada obat. Trauma yang membekas. Kenangan yang tak pernah—hilang.