
Mey Gholeng
(siswi Kelas X SMAS K St Arnoldus Mukun)
Alkisah, di sebuah desa, tepatnya di Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan, hiduplah satu keluarga yang sederhana. Mereka mempunyai seorang anak yang saat itu sedang menempuh pendidikan. Pada suatu hari, sang bapak pergi merantau ke Kalimantan untuk mencari nafkah demi menghidupi keluarganya dan membiayai sekolah anaknya. Sesampainya di sana, bukan hanya kebahagiaan yang ia dapatkan, tetapi juga banyak penderitaan yang ia alami dalam hidupnya. Di perantauan, sang bapak mengalami berbagai tantangan berat, bahkan ia sempat disekap dan mengalami banyak penderitaan. Tiga tahun lamanya sang bapak merantau. Tiba-tiba, ia mendapat kabar dari istrinya bahwa sang istri sedang mengandung sembilan bulan, padahal istrinya tidak pernah melakukan apa-apa yang seharusnya menjadi penyebabnya. Setelah menerima kabar tersebut, sang bapak segera kembali ke kampung halamannya untuk memastikan kebenaran berita itu.
Setibanya di kampung, sang bapak langsung bertanya kepada istrinya dengan raut wajah yang kesal dan penuh curiga. Namun istrinya menjawab dengan sangat jujur bahwa ia tidak pernah melakukan apa-apa selama sang bapak merantau. Jawaban yang tulus itu perlahan menenangkan hati sang bapak, meski kebingungan masih menyelimuti pikirannya.
Lima hari kemudian, tepat pukul 15.39 sore hari, sang istri menangis kesakitan. Mereka segera memanggil dukun untuk membantu persalinan. Sesampainya sang dukun di rumah, tidak lama kemudian sang istri pun melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun sungguh mengejutkan, bayi tersebut lahir dalam keadaan cacat—kedua kakinya menghadap ke belakang, begitu pula dengan kedua siku tangannya, sementara wajahnya masih tampak seperti manusia pada umumnya. Tidak lama setelah lahir, bayi itu pun meninggalkan dunia. Semua orang menangis meratap kehilangannya, namun sang ayah justru merasa takut dengan kehadiran bayi itu, meskipun hanya sesaat.
Bayi tersebut dimakamkan pada siang hari, di belakang rumah mereka. Ketika proses pemakaman berlangsung, jenazah bayi itu tiba-tiba menghilang secara misterius, membuat semua yang hadir tertegun dan ketakutan. Sejak saat itu hingga dua bulan kemudian, sang bapak tidak pernah sekalipun berani mendekati bagian belakang rumahnya karena rasa takut yang terus menghantuinya.
Empat bulan kemudian, sang bapak sedang tidur di ruang tamu dengan menjadikan tas berwarna biru sebagai bantalnya. Ia pun bermimpi didatangi seorang bayi yang mengenakan baju berwarna biru. Bayi itu memohon pertolongan kepadanya, “Halo, Ayah… tolong aku… jangan kau injak kakiku, Ayah. Aku sudah merasakan kesakitannya dari tadi.” Sang bapak langsung terbangun dengan kaget, lalu memeriksa tas yang ia jadikan bantal. Namun isi di dalamnya hanya sebuah buku kecil. Sang bapak menganggapnya biasa saja, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ternyata, sang istri pun mengalami mimpi yang serupa pada malam yang sama. Sementara itu, anak sulung mereka yang baru saja menyelesaikan sekolah tiba-tiba jatuh sakit dan mengalami kelumpuhan.
editor: Tim Jurnalistik




